Kamis, 21 Agustus 2014

Teknik Pencahayaan Fotografi

  • Flat Lighting – Pencahyaan Data 

Bentuk pencahayaan frontal atau pencahayaan langsung berasal dari arah depan obyek sehingga menghasilkan gambar yang berkesan datar tanpa dimensi. Biasanya pencahayaan ini dihasilkan dari lampu kilat yang di pasang (melekat) di kamera.


  • Direct Lighting (Pencahayaan Langsung) 

Direct lighting (cahaya langsung) cahaya yang datang langsung dari sumber cahaya tanpa hambatan dan tanpa di pantulkan. Sifatnya keras dan menghasilkan bayangan tajam. Cahaya langsung terjadi ketika matahari bersinar terang dengan langit tak berawan sehingga cahaya matahari jatuh langsung menimpa subyek. Bagian yang tertimpa sinar matahari biasanya menghasilkan bayangan yang kuat, bersifat satu arah, dan memiliki berkas cahaya kuat dengan kontras yang mencolok antara bagian yang terkena sinar dan tidak terkena.


  • Rembrant Lighting 


Rembrandt Lighting ato Pencahayaan Rembrandt. Kata Rembrandt diambil dari nama seorang pelukis kelahiran Belanda pada abad 17, yang mendapatkan ide pada lukisan untuk memanfaatkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela yang lebih tinggi darinya. Aturan teknis ini akhirnya juga diikuti oleh para fotografer dengan meletakkan posisi lampu yang agak tinggi dari obyeknya (dapat diletakkan di sebelah kanan ato kiri obyek) sehingga efek yang didapatkan adalah bayangan segitiga yang terdapat pada bagian di salah satu sisi wajah. Penyinaran ini biasa digunakan oleh fotografer yang ingin menampilkan sebuah potret dengan menonjolkan nilai artistik. Dalam dunia seni rupa, pencahayaan Rembrandt ini sering juga disebut window lighting.


  • Rim Lighting


Letak sumber cahaya (misal lampu studio) yang berada di belakang obyek yang agak menyamping kiri atau kanan sehingga terbentuk cahaya yang mengelilingi di sekitar obyek foto.

Sejarah Kamera Canon


Goro Yoshida (1900-1993) dilahirkan di Hiroshima dan tidak pernah tamat SMA. Dia lah yang menjadi cikal bakal adanya kamera Canon. Dia bekerja disebuah perusahaan tempat developing film dan tempat perbaikan kamera. Selama masa dia bekerja dia pernah membongkar kamera yang sangat tenar waktu itu, Leica. Leica adalah kamera buatan Jerman dan harganya sangat tinggi hingga digambarkan dengan gaji tertinggi lulusan dari universitas paling elit saat itu adalah 70 yen dan harga sebuah kamera Leica adalah 420 yen. (gila dong..)
Yoshida mempelajari isi dari kamera tersebut dan dia kesal setelah melihat isi dari kamera tersebut. Didalamnya tidak terdapat barang yang mahal seperti berlian. Semua benda mekanik terbuat dari kuningan, alumunium, besi, dan karet. Dia kesal karena mengapa material yang harganya sangat murah bisa menjadi benda yang sangat mahal.


Bersama dengan iparnya Saburo Uchida (1899-1982) dan Takeo Maeda (1909-1977), Yoshida mendirikan Precision Optical Instruments Laboratory pada tahun 1933 dan berhasil membuat kamera 35mm rangefinder prototype yang dinamakan Kwanon “Leica model II”.

Nama “Kwanon” diambil dari dewa umat Buddha yaitu Kwannon dewa pengasih. Dan bahkan lensanya pun diberi nama “Kyasapa” yang diambil dari Mahakyasapa yaitu murid dari Buddha.
Namun pada tahun 1934, Yoshida mengundurkan diri dari laboratorium itu, karena dia berfikir bahwa Precision Optical Instruments Laboratory sudah tidak seperti yang dia inginkan.
Dengan semakin banyaknya penelitian, Precision Optical Instruments Laboratory merasakan bahwa mereka tidak menemukan kemajuan dalam memproduksi lensa yang notabene hal ini adalah yang paling penting dalam pembuatan kamera. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan pembuat lensa Nippon Kogaku Kogyo (yang sekarang menjadi Nikon Corp.) Nippon Kogaku adalah perusahaan besar pembuat peralatan optik yang secara khusus menangani peralatan militer pada saat itu. Dan kebetulan dibawah kepemimpinan perusahaan yang baru, mereka akam mencoba pasar domestik. Sehingga ajakan Precision Optical Instruments Laboratory untuk bekerja sama dalam membuat kamera mendapat sambutan yang sangat baik. Kerja sama mereka menghasilkan produk masal pertama mereka yang diberi nama “Hansa Canon”



Dan pada akhirnya Canon Camera Co., Ltd memutuskan untuk berkonsentrasi pada pengembangan kamera Single Lens Reflex (SLR) karena mereka pikir bahwa dengan pemikiran dan pengembangan meraka, kamera SLR bisa sangat unggul dari kamera Rangefinder. Pada Mei 1959 Canon meluncurkan Canonflex sebagai SLR pertama mereka. September 1968 produksi kamera Canon Luxury 35mm rangefinder yang sudah menjadi tradisi Canon sejak kamera perdana mereka Kwanon, resmidiscontinue yang menjadikan type “7S” sebagai produk 35mm Rangefinder Hi-end terakhir dari Canon.
Pada ulang tahun Canon Camera Co., Ltd yang ke 30, presiden Mitarai berkata dalam pidatonya,
” Untuk memperkokoh kemakmuran perusahaan kita tahun ini, kita harus memegang kamera di tangan kanan, mesin-mesin bisnis dan peralatan optik khusus di tangan kiri. Pada saat yang sama, kita harus secara substansial meningkatkan ekspor kita”.
Dan perkataan itu menjadi pedoman perusahaan sehingga pada 1960 mereka secara resmi mulai memasuki bidang elektronik seperti mesin fotokopi, peralatan optik khusus dan lain sebagainya. Sehingga pada 1 Maret 1969 Canon Camera Co., Ltd kembali merubah nama mereka menjadi Canon Inc sampai sekarang.

Kamera Canon EOS 500D

Canon EOS 500D (juga dikenal sebagai Rebel T1i Digital) adalah sebuah kamera digital mid-range SLR yang memiliki fitur video capture HD. 500D bisa juga digunakan untuk merekam Full HD video 1080p berkualitas 720p dan VGA, dan juga merupakan Canon DSLR kedua yang menawarkan rekaman video setelah model profesional 5D Mark II. 500D/Rebel T1i ini menawarkan sejumlah upgrade yang signifikan, termasuk peningkatan dalam resolusi 12-15 megapixel, Fitur Live View ditingkatkan dengan tiga mode yang berbeda. Layar LCD 3 inci dengan 920.000 titik, dan perluasan jangkauan ISO 100-12800. Canon EOS 500D di jual dengan harga $ 799,99 atau $ 899,99 + lensa kit EF-S 18-55mm F3.5-5.6 IS. Canon EOS 500D lebih mahal dari pendahulunya, yang masih ditawarkan sebagai pilihan yang lebih murah.
Kemudahan PenggunaanCanon EOS 500D hampir identik dengan pendahulunya, EOS 450D, dengan penambahan lubang koneksi HDMI, speaker, mikrofon, mode tombol perak yang mengilap. Dimensi kamera yang persis sama (128,8 x 97,5 x 61,9 mm) dan juga beratnya (480 gr). Pegangan kamera relatif kecil, karena grip tidak terlalu dalam. Canon EOS 500D bisa terlihat lebih mahal dari pada sebenarnya, dan tentu saja cukup padat untuk sebuah DSLR mid-range.
     Pemkaian EOS 500D dengan lensa kit EFS 18-55mm f/3.5-5.6 IS, lensa ini memiliki image stabilization yang merupakan faktor penting mengingat pesaingnya seperti Sony, Olympus dan Pentax menawarkan stabilisasi di DSLR mereka. Perbedaan antara Canon, Nikon dan yang lain adalah bahwa Sony, Olympus, dan Pentax telah memiliki fitur stabilisasi melalui bodi kamera dan juga lensa, Sistem Canon jelas dibatasi oleh lensa yang Anda pilih. Canon dan Nikon juga mengklaim bahwa sistem anti-shake berbasis lensa secara inheren juga lebih baik, Namun Sony dan Pentax masih menjadi pilihan para Photografer.
    Seperti DSLR level entry dan tingkat menengah lainnya, EOS 500D menyediakan sejumlah mode pengambilan gambar otomatis yang diperuntukkan bagi pemula, termasuk potret landscape, close-up, olahraga, potret malam, dan flash off. Tersedia juga manual mode dan semi-otomatis bagi pengguna yang menginginkan kontrol eksposur yang lebih maju.    Sebagian besar tombol pada 500D terletak di bagian belakang kamera, meskipun besar layar 3 inch, namun tidak membuat tata letak keseluruhan menjadi rumit. Hal ini menawarkan akses cepat ke mode Continuous, Auto Focus, Metering mode, dan Gambar Styles yang dapat diakses melalui tombol controller melingkar.     Live View di EOS 500D telah sedikit membaik dibandingkan EOS 450D. Jika Anda pemula dan tidak memahami tentang DSLR, pada dasarnya terminologi Live View memungkinkan Anda untuk melihat adegan di depan Anda melaluli layar LCD, bukan melalui jendela bidik optik tradisional. Ini merupakan daya tarik yang jelas bagi pengguna kamera compact.   Ada tiga jenis fokus sistem yang ditawarkan dalam mode Live View. Yang pertama, Quick AF, bekerja dengan membalik mirror kamera untuk melakukan sensor auto-fokus, yang kemudian menyebabkan layar LCD kosong sesaat dan menimbulkan suara fisik, sebelum foto tersebut ditampilkan sekitar 1 detik. Metode kedua, Live AF, menggunakan sistem kontras gambar auto-fokus. Manfaat utamanya adalah mengurangi kebisingan selama operasi, dan tidak ada pemadaman LCD. Sayangnya ini jauh lebih lambat dibandingkan mode AF dan membutuhkan waktu 3 detik untuk mendefinisikan fokus dengan jelas dalam cahaya terang. Metode ketiga yaitu Face Detection AF, menggunakan sistem kontras auto-fokus yang sama sebagai Live AF, dengan penambahan yang dapat mendeteksi wajah manusia dan mengatur wajah terbesar yang paling dekat ke tengah bingkai sebagai titik AF. Live View juga digunakan untuk fitur pengambilan gambar video full HD 1080p.